Senin, 19 November 2012

Gunung Bawakaraeng

    Pukul 12.00 WITA bagian dekat kosku, suara mesjid yang sedang berkomandan membisikan telingaku bahwa hari ini adalah hari jum'at, dan ternyata benar kata si Mesjid bahwa aku harus mendekatkan diri kepadanya untuk menunaikan sholat jum'at. Dan akupun mendekatkan diri mendengarkan khotbah dan menunaikan sholat jum'at. Tak lupa di akhir sholatku, aku mengangkat ke dua tanganku sambil bedo'a kepada sang pemilik alam semesta ini sambil berkata "Ya Allah, hamba kembali malantunkan suara merduku  untuk merendah diri kepadamu dan memohon maaf atas segala dosa yang aku perbuat baik di sengaja ataupun tak aku sengaja, Ya Allah hamba memohon kepadamu, "izinkan hamba untuk menjejakkan kaki-kakiku di puncak gunung Bawakaraeng.."Amin.

   Setelah do'a kupanjatkan kepada sang penguasa alam jagat raya ini, kakiku langsung beranjak meninggalkan pintu mesjid dan kembali pada kosku yang indah ini di jalan Bonto mene kel. karunrung dekat minasaupa kota makassar (lengakapnya begitu). sesampainya di kosku yang berukuran panjang kali sempit sama dengan terjepit membuat tanganku langsung bergerak melakukan packing yang artinya dari aku sendiri "bersiap-siap sambil beres-beres". langsung saja kumasukkan semua barangku dalam sebuah daypack yang nggak terlalu besar, yang isinya hanya sleeping Bag, pakian biasa 2 lembar, jaket, beserta makanan. dan selebihnya itu di bawa oleh saudaraku di mapala namanya Argo, kebetulan dia yang bawa keril atau sebutan biasanya ransel kali yeh..

   Pukul 14.00 bagian kosnya seniorku, karena sekarang saya sudah berada di kosnya seniorku yang sangat cantik yaitu kak linda di temani dengan kopi buatannya di iringi musik klasik dari suara rintik-rintik hujan yang sangat keras membuatku menunggu kedatangan Argo yang masih di jalan tertahan hujan. tak lama hujan berhenti Argopun datang dengan gagahnya sambil membawa karel besar miliknya yang membuat saya tak mampu bernafas melihat bebannya yang lumayan ringan kata Argo. hem ringan dari mananya, kaya lemari Es gitu "kataku".. hahay.

   Pukul 3 sore lewat banyak, akupun beranjak menuju malino meninggalkan  makassar bersama argo menggunakan sepeda motor dengan muatan lemari Es membuat sepedamotorku semakin tinggi ke bawah. hem..!

  Udah hampir jam 6 sore dekat magrib lewat Aspal, perjalanan udah memasuki kota malino, kamipun singgah di sebuah warung Bakso dengan harga  5.000 rupiah  untuk mengisi lambung tengah untuk persiapan jalan karena aku dan argo berinisiatif untuk jalan malam berdua mendaki gunung gitu..

   Setelah makan kulanjutkan perjalananku menuju desa Lembanna dimana desa ini merupakan desa yang paling strategis untuk memulai perjalanan menuju gunung bawakaraeng.  Sesampai di Desa lembbanna ternyata kendaraan sudah begitu banyak hampir ribuan lebih, kira-kira sekitar 76 motorlah..

    Para pendaki minggu ini memang bigitu banyak karena hari libur sampai hari minggu jadi banyak para pendaki yang bersantai di tempat ini, sebab ada yang menuju lembah Ramma dengan suasana yang mirip dengan Ranukumbolo yang berada di gunung semeru, dan ada juga yang menuju puncak bawakaraeng.

  Yah.. sekarang sudah pukul stengah 9 malam waktunya untuk berangkat sebab udah terlalu lama duduk-duduknya bersama para pendaki yang berangktnya mungkin  besok pagi.. perjalananpun di mulai dengan di temani seorang PA (penduduk Asli) namanya Tata Rasi'i yang katanya ingin mencari anaknya yang sedang menemani anak jakarta menuju puncak yang belum balik.

    Perjalananpun begitu indah dengan pemandangan pertama yaitu pohon pinus yang tidak terlalu kelihatan karena kami berjalan di malam hari..

   Pos 1 pun telah kami dapat, ternyata ada juga sekelompok pendaki yang sedang beristirahat, katanya ingin ke Lembah ramma. di pos ini memang tempat percabangan antara puncak bawakaraeng dan lembah ramma, klo ingin menuju lembah Ramma silahkan ambil jalur kanan, kalau ingin menuju puncak bawakaraeng silahkan ambil jalur yang kiri dan kalo ingin menuju kerahmatullah silahkan lempar barang-barang dan menju puncak tanpa membawa apa-apa.

   setelah beristirahat sejenak kamipun meninggalkan pos 1 bersama Argo dan Tata Rasi. di tengah jalan kami bertemu dengan anaknya bersama 3 orang anak jakarta yang abis mendaki. Jadi Tata Rasi pun kembali turun bersama yang lainnya, tinggal saya berdua bersama Argo melanjutkan perjalanan di malam hari bermodalkan headlamp di kepala dan sebuah senter di tangan membuat malam menjadi siang dalam lingkaran senterku.

   Rasa takut pun pasti ada apalagi pada saat melewati pos 3 yang mitosnya atau faktanya ada seorang wanita yang pernah bunuh diri di pos tersebut membuat langkahku semakin cepat ibarat Bentor (becakmotor) yang sedang mendaki.

    Dua jam lebih perjalanan yang kami lalui akhirnya sampai juga di pos 5 tempat para pendaki biasanya nginap dan beristirahat karena tempat ini yang memiliki sumber air yang lumayan bersih. saya pun beristirahat bersama Argo sambil menyelipkan sebatang rokok di sela-sela jariku dan terkadang mengisapnya. Ku bertanya sama Argo, bagaimana? mau di lanjut atau tidak?. Argo malah balik bertanya, sabar2 dulu yah. klo kita masih kuat kah atau tidak? kata argo kepada saya. kaya'nya pasang tendah di tempat ini sepertinya asyik sekali yah sambil ku gerakkan pandanganku menuju Argo. ternyata Argopun tersenyum sambil mengisap kreteknya. akhrinya di ambillah itu tenda dalam kerrel lalu kami pasang dan terakhir tinggal memasukkan semua barang-barang kedalam tenda, lalu ngopi dulu deh.

    Asyiknya malam ini di pos 5 dengan cuaca alam yang baik dan butiran bintang-bintang di atas kepala saya sambil dengar curhatan sang Argo yang akan di tinggal oleh pacarnya ke bau-bau hari minggu besok, baru sekarang dia lagi berada di gunung. hem, sedihnya sambil ku minum kopi dalam gelas itu dan ku ambil biskuit di depannya membuat perutku merasa gembira dengan kedatangannya. tak terasa sudah jam 2 subuh kami pun pi tidur untuk melanjutkan perjalanan besok.

Pos 5

 Ternyata cuaca sudah mulai terang, tendapun sudah tidak kelihatan gelap, suara ribut-ributpun sangat jelas kedengaran. ternyata sang pagi yang memanggil-manggil di luar tenda untuk menemaninya sebelum Siang hari datang. akupun langsung terbangun membuka resliting tenda dan kukeluarkan diriku kedepan tenda sambil menghirup udara pagi yang begitu segar yang tak akan kita dapatkan udara seperti ini di kota Makassar. 

   Pagi ini membuat perutku mules seakan prajurit perang yang ingin keluar dari perutku ternyata itu petanda bahaya dari dalam perut akibat makan bakso waktu di malino , kebanyakan kaya'nya ini. langsung saja kuambil botol air itu lalu ku pergi mengisinnya di bawah tempat sumber air lalu cari tempat untuk pasang ranjau. Alhamdulillah ranjaunya pun sudah terpasang dengan sangat cantiknya dengan kututupi sedikit tanah lalu ku isi lagi botol itu dengan air lalu ku kembali ke tenda sambil bernostalgia lagi dengan para pendaki yang ada di tempat itu. hilang lagi deh bebanku..

      Tak perlu masak pagi, hanya memakan roti saja sudah membuat pagiku sudah terasa kenyang nanti di pos 7 baru singgah masak. setelah cerita panjang kali lebar sama dengan cerpen langsung saja saya dengan argo membongkar tenda untuk melanjutkan perjalanan. sudah banyak para pendaki yang melewati kami yang berjalan duluan dan kami pun juga sudah siap-siap untuk melanjutkan perjalanan walaupun hanya berdua tapi rasanya ibarat pengantin baru yang lagi pengen bulan madu di puncak.. hahahaha tawaku dalam hati.

     Kami pun meninggalkan pos 5 menuju pos 6 yang jalurnya mendaki terus membuat saya teringat bahwa pentingnya sebuah kaki untuk melangkah dan banyanknya bebatuan  yang besar dan terkadang membuat kakiku terjepit dalam bebatuan yang retak seperti hatinya Argo yang akan di tinggal Pacarnya. 

       Kurang lebih satu jam kami sudah sampai di pos 6, istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan menuju pos 7. Perjalananpun di mulai lagi dengan pendakian yang membuat mata tak mampu untuk memandang lurus ke atas, sebab dekat di mata jauh di kaki. tapi kakipun tak mau kalah dengan tingginya gunung yang dia lewati, tetap saja kaki ini akan terus melangkah sampai tujuan itu tercapai yaitu puncak Bawakaraeng.  Setelah beberapa lama berjalan akhirnya sampai juga di pos 7 yang tempatnya sangat terbuka membuat pandangan tak mau berhenti menatap indahnya ciptaan Tuhan yang maha Esa. Amazing kata Tukul Arwana.

POS 7

      Hem, kata syukur yang tak henti-hentinya ku ucapkan dalam hatiku melihat ke agungan dan kebesaran sang Pencipta alam jagat raya ini atas apa yang Dia perlihatkan kepadaku membuat hatiku bertanya-tanya.. jika kelak semua tumbuhan di depan mataku ini lenyap dan yang tertinggal hanyalah tanah sebagai tempat kita untuk berjalan, masih mampukah kita hidup lebih lama? masih mampukah kita menghirup udara seperti pagi ini? masih adakah air yang akan mengalir?? hemm, semoga hanyalah pikiran negatif kita dan semoga itu tidak terjadi, Amin.

     Alam yang begitu indah dan nampak jelas di Pos 7 bawakareang membuat perut kami berbunyi mengisyaratkan tanda kelaparan menguji sang koki dari MAHORPALA yaitu Argo untuk unjuk diri dalam ke bolehannya dalam memasak yang tak ada tandingannya di luar sana kecuali Mace (penjual di kantin kampus). Di keluarkannya Trangia(alat masak) dalam keril dan beberapa  alat masak lainnya yaitu piring, sendok, gelas dan tidak banyak lagi deh. setelah itu keluarlah menu rahasia, andalan setiap para pendaki yaitu Indomie kaldu rasa terasi yang hampir basih di simpan di garasih kalau di makan seperti Sapi ('nyamanna).

MASAK DI POS 7

walaupun hanya sekedar Indomi tapi nikmatnya tak ada duanya sebab masalahnya kalau di atas gunung tidak ada penjual coto, Alfamart atau ramayana. mantap tidak mantap tetap makanan andalan para pendaki.

    Tak lama sebelum Indomie itu masak, rombongan sebelum kami datang dan terrnyata mereka camp tak jauh dari pos 7, mereka adalah kak Anggi, kak Ambas dan latimojong(nama rimba) ternyata eh ternyata dan katanya dari semalam mereka tidak minum air. kowdong seniorku yang cakep mereka kehausan. untung persediaan air masih banyak. Makan siangpun di mulai bersama-sama walaupun tidak terlalu banyak tapi cukup untuk mengganjal perut kami berlima sampai minggu depan.

     Sehabis makan dan istirahat sejenak, perjalananpun kami lanjutkan lagi menuju pos selanjutnya walaupun kami tinggal sejenak sambil tidur di tenda saudara kami yang camp dekat pos 7 yang lagi menggila semua sambil tertawa-tawa membuat kami juga ikut menggila. Hampir saja kami lupa untuk melanjutkan perjalanan gara-gara bernostalgia walau kami di rayu juga untuk tidak melanjutkan perjalanan, namun tekat tetap tekat, teh tetap teh, apalgi kopi tidak mungkin jadi susu walau di campur susu pasti jadinya kopisusu. Perjalanan pun di mulai dan medannya pun sudah tidak terlalu ekstrim karena sampai pos 8 hanya penurunan saja dan sedikit ada pendakiannya. 

     Sesampai di pos 8 kami hanya beristirahat sejenak karena kondisi alam sudah hampir gelap maka kami langsung beranjak menuju pos 9 yang medannya medaki lagi tapi jarak tempuh mungkin hanya sekitar 30 menit gitu jadi nggak terlalu was-was. Sesampai di pos 9 ternyata sudah ada tenda dari pendaki lain yang sudah terpasang kokoh dan selebihnya ada yang camp di puncak dan ada juga yang baru turun dari puncak dan katanya mereka camp di pos 8. 

     Pos 9 adalah pos paling mantap  juga untuk berCamp karena disini sumber airnya bersih dan sehabis ini tinggal menuju puncak gunung bawakaraeng atau menuju puncak akademi fantasi.. "appaan". 

CAM DI POS 9

     Stelah tenda terpasang dan semua barang sudah berada di dalam tenda waktunya untuk membuat kopi dan menikmati senja yang hampir tergantikan oleh malam hari. 

Kurebahkan badanku dalam bungkusan sleepinbag dan ku tinggalkan malam melalui mimpi indahku untuk berjumpa dengan sang surya esok pagi untuk menuju puncak tertinggi bawakaraeng.

     Jam 7 pagi, aku dengan argo sudah siap-siap untuk menuju puncak walau tenda kami taruh di pos 9, tapi kami percaya bahwa tak ada pencuri di tempat ini dan anak pencinta alam itu adalah orang pecinta yang cinta dengan alam pasti mereka akan cinta dengan semua yang ada di gunung.

      Kurang lebih 30 menit perjalanan dari pos 9 menuju puncak dan sekarang tibalah kami pada daratan yang sangat tinggi dengan ketinggian 2.830m d.p.l yang membuat mata lagi-lagi terhibur oleh panorama alam yang begitu indah membuat kami tak tau cara untuk berpose pada saat pengambilan gambar. haha.

Begitu indah ciptaan Tuhan maka jagalah sebelum mereka tak lagi menjagamu.

Dan buanglah sampah pada tempatnya sebelum sampah itu sendiri yang membuangmu pada tempatmu.

itulah ceritaku...

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More